

















DENPASAR – Suasana Harmonis dan penuh kebersamaan menyelimuti Pantai Mertasari, Intaran, Sanur, pada Minggu pagi (1/11/2026). Ribuan umat Hindu tampak antusias memadati kawasan pantai untuk mengikuti prosesi sakral Pengelukatan Agung Banyu Pinaruh yang diselenggarakan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali bersama PSN Korda Denpasar dan Yayasan Dharma Pinandita (YDP) Cabang Bali.
Berdasarkan pantauan di lokasi, rangkaian upacara dimulai sejak pukul 07.00 WITA. Para pemedek yang mengenakan busana adat madya bernuansa putih tampak tertib membawa sarana banten seperti pejati dan canang sari. Upacara spiritual ini dipuput (dipimpin) langsung oleh tujuh Ida Sulinggih, menambah kekhusyukan jalannya ritual pembersihan diri secara lahir dan batin.
Sambutan dari Ketua PSN (Pinandita Sanggraha Nusantara) Korwil Bali, Pinandita I Wayan Dodi Arianta menyampaikan bahwa kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, mengingat dalam ritual ini para peserta mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengikuti tujuh jenis pengelukatan sekaligus, dan di Puput Oleh 7 Ida Sulinggih yaitu:
- Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santhi Yoga (Tirta Gangga)
- Ida Bhagawan Agra Sagening (Siwa baruna)
- IPM Wajradhara Dwijananda (Budha gamana)
- Ida Pandita Mpu Nabe Dwidaksa Dharma Manik kusuma (Wisnu panjara)
- Ida Pandita Mpu Jaya Ananda (Siwa Gni)
- Ida Rsi Bujangga Waisnawa Dharma Loka ( Wana Gamana)
- IPM Acarya Paramadaksa Jayananda (Marga Gamana)
Pinandita I Wayan Dodi Arianta juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, Bank Pembangunan Daerah Bali, Balai Wilayah Sungai Bali Penida, Perumda Bhukti Praja Sewakadarma, Bendesa Adat Intaran, Bupda Desa Adat Intaran dan Semua Donatur untuk bantuannya didalam melaksanakan Upakara ini.
Sambutan Dari DPR RI Komisi III, I Nyoman Parta, SH. Menyampaikan rasa Terima kasih kepada seluruh Panitia dan Seluruh pemedek yang sudah meluangkan waktu dihari yang baik ini, Nyoman Parta juga Menekankan bahwa Banyu Pinaruh bukan hanya menjadi momentum penyucian diri secara spiritual, tetapi juga kesempatan untuk membersihkan pikiran dan memulai siklus kehidupan yang baru dengan niat yang lebih baik.
“Kita tidak bisa masuk ke siklus kehidupan yang baru kalau masih membawa kotoran pikiran dari siklus yang lama,” ungkap Nyoman Parta.
Ia menjelaskan, Banyu Pinaruh yang menandai dimulainya siklus baru dalam kalender Pawukon mengandung makna mendalam bagi kehidupan umat Hindu di Bali. Penyucian diri menjadi pengingat agar setiap orang mampu melepaskan pikiran-pikiran negatif dan memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan.
Nyoman Parta juga menguraikan makna filosofis pertemuan air laut dan air beji yang dimaknainya sebagai pertemuan purusa dan pradana. Sementara itu, laut sebagai muara terakhir dari aliran sungai menjadi refleksi tentang perjalanan ilmu pengetahuan menuju kebijaksanaan.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus dihayati dan diterapkan dengan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Ia pun mengajak para pemedek agar makna doa dan penyucian diri yang dilaksanakan tidak berhenti pada ritual semata, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata setelah kembali dari melukat.
“Sepulang dari melukat, mari kita membawa satu niat baik untuk diwujudkan. Bisa dengan memperbaiki hubungan dengan sesama atau meninggalkan kebiasaan yang merugikan. Dari langkah sederhana, pembaruan diri kita mulai,” demikian pesan Nyoman Parta.
Melalui momentum Banyu Pinaruh ini, umat Hindu memanfaatkan hari baik setelah perayaan Hari Suci Saraswati untuk memohon pencerahan, penyucian diri, serta memohon kerahayuan (keselamatan) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa di segara (laut) Pantai Mertasari. Acara yang berlangsung lancar ini mendapat apresiasi positif dari masyarakat karena memberikan kemudahan sarana pembersihan spiritual secara massal dan tersentralisasi.

